Kalian yang ‘ngapakers’

Bahasa Bayumasan atau orang luar Banyumas menyebut bahasa ngapak adalah bahasa yang dipakai oleh masyarakat di wilayah barat dari Jawa Tengah. Bahasa ngapak identik dengan orang-orang asli Barlingmascakeb (Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Kebumen) Dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa bahasa ngapak ternyata tidak hanya digunakan di daerah berlingmascakeb saja, tetapi tegal, slawi bahkan cirebon-pun ada hubungannya dengan bahasa ngapak.

Bahasa ngapak tergolong bahasa yang unik, karena menurut mereka yang bukan ngapakers berpendapat bahwa bahasa ngapak adalah bahasa yang lucu, tetapi karena kelucuannya itu pula orang yang berbicara ngapak disebuah forum biasanya akan ditertawakan. Teman saya bahkan pernah bilang “do, sebenarnya anak ngapak itu cantik-cantik ya, tapi kalo saya denger dia lagi ngomong ngapak, aku malah jadi ilfeel”. Tapi anak perempuan ngapak perlu berbangga, karena kalian telah dipuji bahwa anak ngapak itu cantik-cantik.

Dibawah akan saya tunjukkan beberapa kata-kata ngapak yang sering dianggap aneh bagi mereka yang diluar ngapak, khususnya di Semarang, karena saya sedang menempuh pendidikan di Semarang.

  1. ‘Mbok’

Kata ‘Mbok’ dalam bahasa ngapak mempunyai banyak arti. Tergantung kata sebelumnya. Misalnya :

‘Iya mbok?’, artinya adalah ‘iya kan?’

‘Awas, mbok ketabrak’, artinya adalah ‘awas, ntar ketabrak’

Dan masih ada beberpa lagi arti dari kata ‘mbok’ ini. Kata ‘mbok’ ini sering menjadi bahan tertawaan bagi orang-orang diluar ngapak. Orang-orang diluar daerah ngapak menganggap bahwa kata ‘mbok’ ini mempunyai arti simbok, simbah, nenek. Teman saya pernah berkata “Do, tak kira kamu pas ngomong ‘mbok’ itu artinya simbah, gue jadi mikir kok aku jadi tua amat dipanggil mbok”. Kalian yang ngapakers pasti pernah jadi bahan ejekan karena kata yang unik ini.

  1. ‘Kepriwe’

Kata ‘kepriwe’ dalam bahasa Indonesia memiliki arti ‘bagaimana’. Kata ini juga sering menjadi bahan tertawaan bagi orang diluar daerah ngapak, karena orang-orang diluar ngapak, khususnya daerah Semarang dan sekitarnya (Demak, Salatiga dll) biasa mengatakan ‘bagaimana’ dengan kata ‘piye’ bukan ‘kepriwe’. Saya pernah penglaman menjadi bahan tertawaan teman-teman saya gara-gara kata ‘kepriwe’ ini. Ya begitulah, kalian pasti juga pernah kan? Ngaku aja lah.

Dan banyak kata-kata ngapak yang lain yang sering menjadi tertawaan disana karena dalam bahasa ngapak, tulisan dan bacaan dibaca sama. Misalnya kata ‘nang kana’ orang ngapak membaca dengan bahasa apa adanya yakni dengan kata ‘nang kana’, sedangakan orang Semarang dan sekitarnya membaca dengan kata ‘neng kono’.

Sebenarnya, bahasa mereka juga ada beberapa kata yang lucu menurut orang-orang ngapak, tapi entah mengapa bahasa ngapak yang terus dibully, padahal anak-anak ngapak di Semarang juga banyak. Mungkin mereka tidak suka membalas ya. Bahasa yang aneh menurut anak-anak ngapak antara lain adalah ‘apa’ yang dibaca oleh orang Semarang dan sekitarnya dengan kata ‘opo’ yang artinya ‘apa/why’. Kata ‘opo’ itu lucu karena kata ‘opo’ itu kan merek sebuah handphone. Hehe.

Adapula perbedaan unik dari makna kata ‘meh’. Saya mempunyai pengalaman unik dengan kata ini. Orang-orang daerah Semarang dan sekitarnya memaknai kata ‘meh’ dengan arti ‘akan’ sedangkan kata ‘meh’ dalam bahasa ngapak mempunyai arti ‘hampir’, hal ini sering menyebabkan perbedaan pemaknaan bahasa. Pernah pada suatu hari saya diajak makan siang oleh teman saya dengan kata seperti ini : ‘Rido, meh makan ra?’ saya perlu beberapa lama berfikir untuk menangkap maksudnya ‘kok hampir makan, maksudnya gimana?’. Saya meminta dia mengulangi pertanyaannya lagi, dan kata yang keluar adalah kata yang tersebut tadi. Saya belum juga maksud, dan dia akhirnya mengulangi lagi dengan bahasa Indonesia ‘kamu mau makan?’, nah, barulah saya paham.

Tapi ya itulah makna perbedaan bahasa yang bisa membuat bangsa Indonesia menjadi semakin kaya. Ada sekitar 400an bahasa lain di Indonesia, dan kita semua perlu berbangga dengan keberagaman ini karena  perbedaan budaya, bahasa, dan agama ini bukan menjadi alasan untuk berpisah satu sama lain. Berbeda dengan negara diluar sana yang agamanya sama, bahasanya sama, namun mereka saling bertengkar satu sama lain. Kita harus berbangga.

Hidup ngapakers!

“Ora ngapak ora kepenak”

Advertisements

One thought on “Kalian yang ‘ngapakers’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s