Ketika Perasaan VS Logika, Bagaimana?

Pernah kalian mengalami ketidaksesuaian antara logika dan perasaan ketika akan mengambil sebuah keputusan? Misalnya saja ketika anda dalam program diet, logika anda pasti berbicara “lagi diet berati makanan harus dikontrol”, tapi ketika bel istirahat sekolah berbunyi dan anda diajak oleh teman untuk makan dikantin, iman anda mulai goyah dan perasaan anda bergejolak, mulailah ada benturan antara perasaan dan logika, dan akhirnya anda lebih memilih perasaan anda, dengan pergi ke kantin bersama teman anda. Ada satu contoh lagi yakni ketika kita akan dihadapkan dengan ulangan semester minggu depan, logikanya, untuk memperjuangkan hasil yang maksimal, maka kita belajar satu minggu sebelum ulangan diselenggarakan, artinya minggu ini kita harus mulai belajar, namun ternyata hari ini kita belum ada feeling untuk belajar, hari berganti, ternyata hari itu juga belum ada feeling untuk belajar, dan ternyata dalam satu minggu tersebut betul-betul tidak ada feeling untuk belajar akhinya ketika hari H, kita gugup mempersiapkan belajar karena banyaknya materi yang harus dipelajari.

Jadi baiknya kita ikut perasaan atau logika?

Mari kita bahas satu persatu dahulu. Mulai dari logika. Logika adalah pikiran kita tentang apa yang seharusnya dilakukan. Menurut KBBI logika adalah jalan pikiran yang masuk akal. Seperti tadi, ketika minggu depan akan ulangan semester, maka logika kita mengatakan “kamu harus belajar dari sekarang”.

Sedangkan perasaan juga merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan, layaknya logika. Penulis buku ESQ : Ary Ginanjar, mengatakan bahwa ‘hati nurani akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat. Manusia telah memiliki radar hati yang akan membimbingnya (Agustian, 2000). Namun karena kadang perasaan ini telah tercampur dengan perasaan-perasaan yang kotor seperti malas, mementingkan kepentingan dan lain-lain, perasaan juga kadangkala membawa kita kepada keburukan. Seperti yang saya contohkan dalam siswa yang akan menghadapi ulangan semester tadi.

Jadi ketika ada ketidak-singkron-an antara hati dan perasaan, anda teliti dahulu perasaan tersebut merupakan perasaan yang suci atau perasaan yang kotor. Ini adalah teori saya sendiri ya, anda boleh membantahnya apabila anda punya argumen yang lebih kuat dan lebih masuk akal, saya akan dengan senang hati menerimanya karena dengan itu ilmu saya juga akan bertambah.

Oke kembali ke materi. Tadi kita telah membahas apa itu logika dan perasaan, dan kita telah sampai pada ternyata perasaan kita ada dua jenis, yakni perasaan yang suci dan perasaan yang kotor.

Perasaan yang suci adalah perasaan yang berasal dari hati nurani yang akan membawa ketenangan dan efek yang baik apabila kita memenuhi perasaan ini. Contoh perasaan ini adalah : kasih sayang, jujur, memaafkan dan lain sebagainya. Pokoknya yang dari lubuk hati paling dalam deh dan membawa kebaikan tentunya. Kebutuhan fisik dan psikologis (seperti : lelah, jenuh dsb) juga termasuk dalam perasaan yang suci ini. Contoh kasus ketidak-singkron-an antara logika dan perasaan yang suci ini adalah sebagai berikut, ini adalah kisah nyata yang saya ambil dari buku Yusuf Mansur yang berjudul Kun Fayakun. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa ada seorang ayah yang bekerja sebagai karyawan bagian pergudangan, dia telah bekerja selama belasan tahun tanpa kesalahan yang berarti. Pada suatu hari dia terpaksa mencuri karena dia tertekan dengan hutang karena belum membayar SPP anaknya selama empat bulan, dia harus mencuri, karena jika SPP bulan kelima milik anaknya tidak dibayarkan, maka anaknya tersebut akan dikeluarkan dari sekolah. Ketika ia putuskan untuk mencuri, iapun tidak mencuri barang-barang yang mewah, hanyalah mini compo yang ia curi, padahal perusahaan ditempat dia bekerja dalah perusahaan yang memproduksi dari radio kecil hingga TV berukuran besar. Dia terpaksa mencuri. Dan berhasilah dia mencuri. Karena sebelumnya dia merupakan karyawan yang baik, dan dia juga tergolong orang-orang yang pasrah kepada Allah, dia dirundung rasa bersalah setelah mencuri, dia dirundung gelisah. Ketika pemerikasaan oleh perusahaan, dia tidak termasuk dalam orang-orang yang dicurigai, dia lolos pemeriksaan. Tapi kembali lagi, dia terus diuber-uber oleh perasaan yang bersalah. Inilah yang saya sebut perasaan suci, sedangkan logika kita kan mengatakan, udah lolos ya udah, aman, toh barang kecil, demi anak pula, kalau ngaku malah bisa dipecat, ini untuk keamanan kita semua, kamu kan juga udah mengabdi belasan tahun. Tapi tidak dengan perasaan ayah ini, perasaannya tetap diuber-uber oleh perasaan bersalah. Dan akhirnya bapak ini mengakui kesalahannya kepada perusahaan, dia lebih memilih perasaan sucinya. Kalau anda punya buku dari Yusuf Mansur ini, anda bisa membaca lagi kelanjutan ceritanya, yang pada akhirnya bapak ini memang dipecat, bener dipecat, perusahaan tidak mau memikirkan pengabdiannya selama belasan tahun tanpa kesalahan berarti. Dan singkat cerita, bapak ini akhirnya membangun bengkel kecil-kecilan dan sekarang malah bisa berkembang dari bengkelnya tersebut dan sekaligus membuka cabang yang dipegang oleh anaknya sendiri. Itulah contoh seseorang yang mengalami ketidak-singkron-an antara logika dan perasaan suci, yang pada akhirnya dia lebih memilih dan lebih berpihak pada perasaan yang suci.

Lalu yang kedua adalah perasaan yang kotor ialah perasaan yang berasal dari nafsu-nafsu buruk yang hanya akan membawa efek buruk bagi kita. Contoh perasaan yang kotor ini adalah : malas, banyak alasan, mementingkan kepentingan pribadi, mementingkan kepuasan, dan lain-lain. Berikut adalah contohnya :

Wisnu adalah siswa yang mempunyai IQ tergolong tinggi, suatu potensi untuk menuju sukses. Namun entah mengapa sejak dari SMA dia tidak pernah juara kelas, 14 besar pun tidak. Diterima di PTN x adalah cita-cita yang sedang dikejarnya sekarang, dia tidak lolos SNMPTN. Dia sebetulnya iri dengan Adit, teman sekelasnya yang sering menjadi juara kelas dan tidak sombong, dia lebih dahulu diterima di PTN favaritnya lewat jalur SNMPTN. Disaat-saat seperti ini yang seharusnya Wisnu mempersiapkan materi untuk SBMPTN, dia malah lebih sering bermain dengan teman-temannya ‘belom ada mood sama nggak enak sama temen-temen kalo nolak ajakan’ katanya. Hari-harinya disibukkan dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang sebetulnya kurang penting. ‘kan takdir sudah ada yang ngatur’ katanya seperti itu. Dan pada saat hasil SBMPTN diumumkan, hasilnya, kata : ‘tidak diterima’ terpampang di layar LCD laptopnya. Sedih, karena dia tidak diterima di PTN favoritnya. Lalu dia menyalahkan Tuhan bahwa Dia telah tidak adil kepadanya, bahwa takdir tidak berpihak kepadanya.

Nah itulah contoh orang yang lebih memilih perasaan kotornya untuk mengambil sebuah keputusan, nama dalam cerita tersebut adalah palsu, ini bukan kisah yang nyata, tapi disekitar kita, pasti kita sering menemui kejadian-kejadian seperti ini.

Dalam cerita tersebut kan sudah jelas bahwa ketika akan menghadapi SBMPTN ya belajar, itu logikanya.

Memang belajar tidak menjamin diterima, tapi tanpa belajar, apa kita yakin bisa diterima? Kan tugas kita adalah berusaha, betul? Itulah logika.

Tapi perasaan si Wisnu dalam cerita tersebut terus mendikte Wisnu untuk tidak belajar, itulah salah satu jenis perasaan yang saya sebut sebagai perasaan yang kotor, yakni : malas. Anda pasti juga tahu sebaiknya Wisnu ini bagaimana. Begitulah. Jadi ketika kita mengalami ketidak-singkron-an antara logika dan perasaan yang kotor, kita harus menolak perasaan tersebut, kita harus bisa memimpin diri kita sendiri. Lha wong kan kamu yang punya jiwa dan raga, masa kamu nggak bisa mengarahkannya. Walaupun sulit, pasti bisa, harus dengan latihan.

Oke mari kita masuk kedalam kesimpulan,

Dalam hubungan antara logika dan perasaan, ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi yakni

  1. Logika dan perasaan telah sesuai
  2. Ada ketidaksesuaian antara logika dan perasaan yang suci
  3. Ada ketidaksesuaian antara logika dan perasaan yang kotor

Untuk yang nomor satu, jelas tidak ada masalah, semua berjalan lancar, memang harapannya begitu -ada kesesuaian antara logika dan perasaan-. Namun jika ada ketidaksesuaian antara logika dengan perasaan yang buruk, kita harus menolaknya, kita harus bisa memimpin diri kita sendiri. Dan yang ketiga, jika ada ketidaksesuaian antara logika dan perasaan yang suci, kita harus tawar-menawar dahulu. Mempertimbangkan lebih baik yang mana.

Tentang ketidak-singkron-an antara logika dan perasaan yang suci, Dosen Komunikasi Antar Pribadi saya pernah mengajari kami suatu teori, namanya teori win-win solution (win-win solution theory). Dalam teori tersebut, ketika kita dihadapkan dua pilihan yang sulit, yang keduanya menuntut pemenuhan, kita bisa mengambil kedua pilihan tersebut tanpa pengorbanan, tinggal pembagian waktunya saja yang perlu diatur. Dosen saya memberikan contoh : misalnya saja, suatu hari kamu diajak temanmu untuk menemani dia pergi ke mall, sedangkan kamu ada tugas yang harus diselesaikan hari ini, kamu kan pasti nggak enak sama temanmu, tapi disisi lain kamu juga ada tugas yang harus selesai hari ini, lalu bagaimana? Solusinya, kamu bisa saja bilang ‘saya mengerjakan tugas dahulu ya, setelah selesai, ayo kita ke mall sama-sama’ kan jadi tidak ada pihak yang harus dikorbankan. Begitulah maksudnya teori tersebut. Jadi ketika adan ketidaksesuaian antara logika dan perasaan yang baik. Kita bisa menggunakan cara dari teori ini.

Demikian pemaparan dari saya. Selamat beraktifitas, semoga kita bisa mempimpin diri kita sendiri, dan semoga kita bisa dipermudahkan dalam menentukkan sebuah pilihan. Saya yakin bahwa permasalahan hidup kita lebih sulit dibandingkan apa yang saya tuliskan dalam tulisan ini, tapi kita harus yakin, bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Semoga suskses!

Oleh : Khorido Hidayat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s