Untuk para Guru, dan Orangtua Siswa Seluruh Indonesia : Tidak ada siswa yang bodoh di dunia ini. Hanya engkaulah yang belum tahu dimana kelebihan dia.

Sebagai siswa pernahkah kamu dimarahi oleh gurumu karena kamu tidak bisa menjawab apa rumus dari percepatan? Atau pernahkah kamu dikeluhkan oleh Ibumu“kok rankingmu dibawah si? Nggak kaya … (tetangga sebelah)”. Begitulah kira-kira realita kehidupan yang sering terjadi di masyarakat kita berkenaan dengan pendidikan.

Masyarakat di Indonesia masih menganggap bahwa yang dinamakan pintar ya berati dia yang ranking 1 dikelas, dapat juara ini itu, dan lain sebagainya. Bahkan gurupun -sebagai seseorang yang mempunyai taraf keilmuan yang tergolong tinggi- masih banyak yang menganggap bahwa siswa yang pintar/berhasil adalah mereka yang pintar di bidang akademik. Contohnya saja, anak-anak yang pernah berprestasi di bidang Fisika, pasti dia akan sangat diperhatikan oleh guru-gurunya, orangtuanya pun tidak kalah bangga dengan menceritakan prestasi-prestasinya di sekolah sedangkan anak yang berbakat di bidang non akademik seperti : Olahraga, Seni, Budaya atau yang lainnya seringkali hanya dianggap siswa biasa.

Miris memang, karena masih banyak masyarakat kita menilai pandai bodohnya seseorang dari prestasi akademiknya. Padahal semua orang mempunyai kelebihan di bidangnya masing-masing –selain akademik : akting, menyanyi, olahraga misalnya-. Bahkan guru yang seharusnya ‘memberi dorongan dorongan dari belakang’ kepada siswanya-pun ikut-ikutan menilai pandai-bodohnya seseorang dari sudut pandangnya sendiri.

“Masa materi udah dijelasin berkali-kali nggak maksud juga?”

“Masa nilai kalian begini?”

“Maknnya jangan kebanyakan main”

Dan masih banyak perkataan-perkataan lain yang kadang muncul dari seorang guru.

Semua Siswa Mempunyai Kelebihan Sendiri-Sendiri

Jika dipandang secara khusus, manusia itu berbeda-beda. Mengapa berbeda, ya karena dia memang unik. Ada orang yang suka sekali dengan pertandingan sepakbola, namun juga ada orang yang sama sekali tidak tertarik dengan pertandingan sepakbola. Ada orang yang suka dengan matematika, namun juga ada yang membenci matematika. Mengapa? Ya karena memang manusia itu unik. Semua tidak bisa disamakan. Jadi jika anda seorang guru, jangan menghakimi bahwa dia bodoh hanya karena dia mempunyai riwayat nilai yang jelek di mata pelajaran yang anda ampu, mungkin dia kurang tertarik dengan matematika. Pun jika anda adalah orangtua, jangan paksakan anak anda untuk berprestasi di bidang yang anda inginkan karena setiap manusia mempunyai kesukaan sendiri-sendiri.

Akan disayangkan apabila anda sebagai orangtua memaksakan anak anda untuk berprestasi di bidang Sains sedangkan si anak sebetulnya sangat tertarik dan expert di bidang Sastra dan Budaya.

Jika semua siswa dipaksa berkembang di bidang sains, lalu salah siapa jika kami tidak tahu darimana tari jaipong berasal, atau siapa saja anggota dari tiga serangkai.

 

Bahkan Anda Sebagai Guru Fisika Pasti Tidak Bisa Menceritakan Bagaimana Sejarah Panjang Berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara, Lengkap dengan Tokoh dan Tahunnya

Yap, kembali kepada ketertarikan pada bidang masing-masing. Siswa juga manusia, guru juga manusia. Jika anda sebagai siswa dikatai bodoh karena tidak bisa mengerjakan soal aljabar, cobalah anda tanyakan kepada mereka berapa kecepatan sebuah biji kelapa yang jatuh dari pohon yang tingginya 10 meter dengan kecepatan angin 10km/jam kearah selatan.

Betul teman-teman, pasti guru itu tidak bisa menjawabnya, karena apa? Ya karena dia bukan bidangnya, dia tidak suka dengan rumus-rumus fisika, dia hanya suka dengan rumus-rumus matematika. Maka jika anda ini seorang guru, berhentilah menghakimi siswa karena dia bodoh (baca : kurang cekatan) di bidang yang anda ampu. Karena barangkali dia expert di bidang lain, seperti : bidang olahraga, politik, atau seni. Semua orang mempunyai kecondongan yang berbeda-beda.

Membiayai Kami Les Ini-Itu Tidak Serta Merta Menjadikan Kami Cerdas di Bidang Tersebut Secara Tiba-Tiba Bu

Orangtua kadang, karena dia terlalu sibuk dengan urusannya, ketika beliau tahu bahwa anaknya kurang mampu di bidang fisika misalnya, dengan gampangnya orangtua membiayai les anaknya di mata pelajaran fisika tersebut. Padahal tidak semudah itu, orangtua tidak bisa ‘membeli’ ilmu dengan membiayai anaknya les pada mata pelajaran tertentu, karena apabila memang sang anak tidak mempunyai minat di bidang fisika, sampai kapanpun dia tidak akan bisa fisika. Belajar itu soal kemauan. Berilah kami les yang kami sukai agar kami diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi kami.

Ibu bangga juga kan apabila kami bisa berfoto bersama ibu mengangkat piala di bidang olahraga, seni, atau yang lain-lain? Bidang yang kami betul-betul suka, bukan bidang yang dipaksakan untuk disukai.

 

Karena Pendidikan Bukan Hanya Soal Nilai, Tapi Juga Soal Pengembangan Potensi, Pengendalian Diri, Agama dan Akhlak

Bagi para pendidik, pasti anda sudah sangat akrab dengan UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dalam pasal tersebut yang dimaksud dengan pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Coba baca cekali lagi deh, ada ngga kata ‘mengembangkan nilai’ ? Tidak ada -kecuali kamu menambahkan sendiri- nah, sudah jelas kan, bahkan pada kalimat awal disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan agar para peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Bukan memaksakan untuk mencintai sesuatu yang tidak dicintainya.

Karena Siswa Adalah Penerus Bangsa, Maka Jangan Cekoki Kami dengan Perkataan “Kamu Bodoh!”

Kita harus sadar, bahwa kita semua menuju masa tua dan akan mati. Anda memang mati, tapi negara ini masih akan berjalan dan terus berjalan, karena begitulah rantai kehidupan. Siswa-siswa yang anda didik adalah dia yang akan meneruskan perjuangan anda : menghapus kemiskinan, pembodohan, dan menegakkan keadilan di negeri ini.

Jika anda sebagai guru atau orangtua siswa terus mencekoki bahwa anak anda bodoh, maka dia akan ragu dengan masa depannya. Dia tidak bisa melihat sisi positif dari dirinya. Pada akhirnya dia menerima dirinya bahwa dia bodoh “iya yah, saya kan orang bodoh”. Jika sudah begini, maka siswa akan sulit berkembang, dia justru malah akan menjadi seseorang yang pesimis dan penuh keragu-raguan. Mau punya anak yang pesimis dan ragu-ragu?

Kami Lebih Butuh Arahan Ibu Guru Dimana Kelebihan Kami, Daripada Marahan Ibu yang Kadang Hanya Luapan Emosi Semata Tanpa Makna

Sakiiit, betul betul sakit ketika kita sebagai peserta didik dimarahi hanya karena lupa pada tahun berapa revolusi industri di inggris terjadi. Katakan saja : “Kami tidak membutuhkan marahan ibu, yang kami butuhkan adalah nasihat yang mendidik, nasihat yang memberi solusi dan yang menenangkan dalam jiwa”.

Siswa juga seperti guru ketika remaja, mereka pusing dengan banyaknya beban akademik, belum lagi ada guru yang terlalu menuntut dengan selalu memberi tugas rumah, padahal kami juga seperti anda ketika muda bapak/ibu, kami juga butuh refreshing, bersilaturahmi degan keluarga, bermain dengan teman sebaya dan meniba ilmu sesuai dengan kesukaan kita.

Maka anggaplah kami sebagai manusia yang betul-betul manusia. Nasihatilah kami jika kami bersalah, luruskan kami jika kami menyimpang. Bebaskan dan arahkan kami untuk berkembang di bidang kami masing-masing. Karena ibupun begitu, expert di bidang kimia tapi lemah di bidang sejarah.

Oleh : Khorido Hidayat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s