Jangan Lihat Hasil, Tetapi Proses

Pernahkah kalian mendengar kalimat “Ah kamu ini gimana si, cuma ujian kaya gini aja ngga bisa” atau kalimat lain yang intinya orang menyalahkan kamu hanya karena kamu tidak bisa menyelesaikan sebuah soal ujian, atau permasalahan kehidupan lainnya. Banyak orang yang sering lebih melihat hasilnya, nilainya, kesuksesannya, daripada proses perjuangan orang itu untuk meraih sebuah goal yang diharapkan. Seorang guru matematika bangga apabila muridnya bisa meraih nilai 90 dalam UASnya, dan murung ketika ada seorang murid yang hanya mendapat nilai 60, padahal bagi murid tersebut, nilai 60 itu sangat berharga baginya, karena dia memang betul-betul tidak ahli dalam bidang matematika.

Semua Orang Berbeda Keahlian

Ada orang yang ahli dalam bidang olahraga, tapi kurang pandai dalam bidang matematika, ada pula orang yang ahli dalam bidang matematika tapi jika disuruh untuk menghafal, dia tak kunjung-kunjung hafal. Semua orang mempunyai keahlian masing masing.

“Jangan buru-buru menyalahkan orang yang nilai matematikanya jelek, mungkin dia memang betul-betul tidak ahli di bidang itu, atau barangkali dia harus membantu ibunya mempersiapkan dagangnnya besok pagi, sehingga dia belum sempat belajar untuk ulangan matematika besok.”

Orang seperti itu jika mendapat nilai matematikanya hanya 70, kita harus menghargainya, karena nilai 70 itu sudah bagus untuk ukuran dia wajarlah dia kan setiap malam harus membantu orangtuanya mempersiapkan dagangannya, emangnya kamu, yang setiap hari makanan sudah dipersiapkan, hargailah. Atau juga mungkin dia memang tidak pandai di bidang itu, memang, ketika pelajaran matematika dia cenderung kesulitan, tapi jika sudah berbicara tentang bahasa inggris, jangan salah, dia adalah ahlinya. Ya itulah, semua orang mempunyai latar belakang yang berbeda, dan keahlian yang berbeda, kita harus memahami dan peka terhadap apa yang dia jalani.

Kamupun begitu kan, ahli di bidang A, tapi tidak ahli di bidang B. Ahli di bidang biologi, tapi urusan dapur, kamu sama sekali tidak tahu, maka, apakah pantas kamu dimarahi karena kamu terlalu pahit ketika membuatkan sebuah kopi untuk temanmu? Tidak, karena kamu tidak ahli di ranah dapur, kamu baru belajar untuk itu. Yayaya, sekali lagi, ada keahlian masing-masing.

Satu contoh lagi, orang yang rumahnya dekat dengan masjid, wajarlah dia bisa shalat berjamaah terus di masjid, ya jelas wajarlah, tinggal loncat pager rumah aja udah sampe ke masjid, berbeda dengan orang-orang yang rumahnya jauh dari masjid, harus dengan sepeda, atau harus dengan kendaraan bermotor, maka Allahpun berbeda dalam memberikan ganjaran terhadap kedua orang tersebut. Orang yang jauh dari masjid, pasti perjuangnnya ke masjid lebih susah, maka dia lebih pantas untuk mendapatkan ganjaran yang lebih banyak daripada yang dekat dari masjid.

Kejujuran adalah modal utama

Hehe. Tiba-tiba saya teringat ketika saya kelas 2 SMA, guru saya mengatakan, saya lebih bangga kamu mempunyai nilai jelek tapi usaha sendiri, daripada kamu nilai bagus, tapi hasil dari menyontek. Waah, kalimat itu betul-betul membakar semangat kejujuran kami ketika itu dalam menghadapi UH ketika itu. Dan ketika hasil dari UH mata pelajaran tersebut dibagi, wow, ternyata nilainya jelek-jelek, dan saya tergelitik ketika itu karena pada saat itu Pak Guru berkomentar “Aduh, kok nilainya jelek-jelek ya dibanding kelas yang lain”. Saya ketika itu membisik ke Alif, teman sebangku saya “lhe, gimana, katanya suruh jujur, udah jujur, terus nilai jelek dimarahi, kepriwe si”. Ya saya memahami, setiap guru pasti mempunyai harapan yang besar terhadap siswanya, tapi juga harus diingat bahwa, jangan-jangan -tanpa maksud berprasangka buruk- orang yang nilainya bagus-bagus (kelas lain) adalah hasil dari sebuah program ketua kelas : menyontek masal. Hehe. Bisa saja. So, jangan lihat hasil, tapi proses.

Lebih baik nilai baik tapi hasil menyontek atau nilai sedang tapi hasil kejujuran?

Memberatkan sebuah proses

Dahulu ketika saya setoran hafalan “doa setelah shalat” kepada Gus Agus Ramadhan, dan ternyata saya baru bisa hafal setengahnya, beliau berkomentar “urung apal kabeh kang? Yowes, sesuk diapalna maning yo, mungkin sing wis do apal yo pancen pinter ngapalna. Diapalna sing tenanan yo, Allah iku ra ndeleng hasile, tapi proses perjuanganmu ngapalna. Yowes nganah diapalna maning” ketika itu saya betul-betul malu, tapi juga lega, karena Gus Agus tidak menyalahkan saya, tapi malah memaklumi saya. Saya malu karena selama ini saya terlalu santai menghafalkan doa tersebut, dan setelah kejadian itu, saya betul-betul serius memperbaiki hafalan saya, dan alhasil, sayapun bisa hafal dan bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Gus Agus. Itulah sekedar contoh orang-orang yang lebih memberatkan kepada proses, bukan hasil.

Untuk meraih sebuah target A, mungkin semua orang bisa mencapainya, tapi dalam proses mencapai target tersebut pasti perjuangan setiap orang berbeda-beda, ada yang dengan mudah karena telah difasilitasi, ada juga yang berjuang dengan keringat yang bercucuran karena dia harus berjuang sendirian, kita harus menghargai sebuah proses, karena sebuah proses inilah yang membuat istimewa setiap orang. Semoga kita bisa menjadi seorang yang lebih memberatkan sebuah proses, bukan hasil.

Oleh :

Khorido Hidayat

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling UNNES

Referensi Gambar :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s