Kantin Kampus, dan Apa Pelajarannya Bagi Kita

Kali ini saya akan membahas hal yang agak ringan-ringan, namun juga mempunyai hikmah kehidupan bagi kita. Tentang kantin kampus. Saya telah merasakan bagimana rasnya kuliah dua tahun di Universitas Negeri Semarang, banyak cerita menyenangkan dan cerita yang menyedihkan saya dapatkan, dan pada hakikatnya memang begitu : kesenangan akan selalu berjalan beriringan dengan kesedihan, tidak mungkin sebuah kesedihan tidak berganti dengan kesenangan, dan tidak mungkin pula seseorang akan bahagia terus menerus. Ada masanya.

Baiklah, saya tidak akan bercerita tentang itu, tapi saya akan bercerita tentang kantin kampus, dimana semua kampus di dunia ini, pasti mempunyai kantin. Yap, tanpa kantin, dimana dosen akan makan siang untuk ‘mengisi baterai kehidupan’ hehe, atau bagaimana seorang mahasiswa jika tidak ada kantin : kelaparan pasti. Bukan sebuah rahasia lagi, kehadiran ibu kantin tidaklah lepas dari peran birokrasi kampus. Paham maksud saya? Ada sebuah monopoli perdagangan dilingkungan kampus. Sehingga dengan sistem tersebut, tidak sembarang orang bisa berdagang disitu, hanya orang-orang yang dekat dengan birokrasi kampus saja yang bisa berjualan –biasanya isteri dari pegawai kampus-.

Mau tidak mau, bagi semua mahasiswa yang kelaparan atau akan mencetak tugas di kampus pasti akan lari ke kantin. Padahal, dari segi pelayanan dan fasilitas, kantin kampus jauh dibawah para pedagang pedagang diluar sana.

Saya sedang tidak menghasut kalian untuk membongkar sistem monopoli kampus ini, tapi saya mengajak kalian untuk mengambil pelajaran dari cerita kantin ini.

Karena segala kebutuhan makan, fotocopy, atau ATK telah dimonopoli oleh kantin kampus, maka pelayanan kantin kampus manjadi stagnan. Mereka telah merasa puas dengan pelayanan yang seperti itu-itu saja : harga mahal, tempat kurang nyaman, tidak memberi senyum, masakan kurang lezat. Mereka puas karena selalu ada pelanggan yang datang. Padahal, jika mereka mencoba berdagang diluar dengan pelayanan yang seperti ini, hasilnya akan nol besar : tidak ada pelanggan yang akan mendekat. Lalu apa pelajaran bagi kita?

Seseorang yang telah lahir di kalangan yang berada (baca : orang kaya) dan telah terbiasa hidup dengan hidup yang hedonis, maka ia akan kehilangan insting untuk bertahan hidup. Karena mereka telah terbiasa minta ini ada, minta itu ada. Sehingga tidak ada bagi mereka inisiatif untuk mengembangkan diri. Begitu pula dengan orang yang terlahir dan dibesarkan oleh orang yang terhormat, terbiasa dihormati, maka tidak ada bagi mereka inisiatif untuk mencari cara agar dia mendapatkan senyuman, mendapatkan penghargaan, karena mereka telah terbiasa hidup dengan penghargaan secara otomatis dari keluarganya dan pembantu-pembantunya. Sehingga ketika dia keluar dari daerahnya, karena akan berkuliah misalnya, mereka akan keget, mengapa mereka tidak menghargai saya, ah mereka kurangajar, ah semuanya tidak sopan. Padahal, siapa yang tidak sopan?

Itulah yang harus kita waspadai, jangan sampai kita secara tidak sadar telah masuk kedalam lingkungan yang menenangkan hidup, lingkungan yang menjadikan kita merasa besar padahal semakin hari semakin kusut. Semoga kita selalu didekatkan dengan lingkungan yang dinamis dan selalu diberi pertolongan oleh Allah SWT. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s