Memilih Jodoh

Membahas tentang cinta merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi para remaja, cerita cinta merupakan cerita yang paling kuno diantara cerita-cerita lainnya tapi juga entah kenapa cerita ini masih tetap eksis. Dari cerita prambanan, Tangkuban Perahu, Romeo dan Juliet, hingga film-film kekinian seperti drakor Goblin pun semua membahas tentang cinta. Cinta telah menjadi bagian dari hidup manusia. Menariknya jika kita membahas tentang cinta, maka kita juga membahas tentang jodoh. Saya tidak akan memaksakan kepada anda apa pengertian dari cinta dan apa pengertian dari jodoh, karena bagi saya itu adalah hak pribadi dari masing-masing orang untuk mengartikan hal tersebut sesuai dengan pengalaman hidupnya masing-masing.

 

Baiklah mari kita membahas tentang jodoh. Secara umum, ketika orang ditanya ‘menurut lo jodoh itu apa si?’ orang akan menjawab yang intinya : jodoh adalah seseoang yang akan mendampingi kita hidup, melengkapi cerita hingga akhir hayat. Oke, sudah paham apa itu jodoh? sudah dibayangkan ya?

 

Berkaitan dengan judul yang saya tulis, yakni memilih jodoh, saya akan mengajak anda untuk memilih, iya memilih, enak kan, udah dapet jodoh aja seneng, eh bisa milih lagi. Haha. Eh tapi kita jangan main-main dengan masalah ‘memilih’ ini lho. Ada orang yang karena tidak pandai dalam memilih akhirnya kehidupan orang tersebut kacau, orang yang dia pilih ternyata mabuk-mabukan, judi, atau jika dia perempuan ternyata dia perempuan yang boros, tidak pandai dalam bermasyarakat dan lain-lain. Pernah liat orang yang seperti itu? Semoga saja kita tidak diberi jodoh yang seperti itu. Amin. Lalu bagaimana cara kita memilih jodoh? baiklah, saya langsung mengambil nasihat ini dari Rasullullah dalam haditsnya yang artinya : “perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasai’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi). Dalam hadits tersebut kita khususnya sebagai seorang laki-laki disarankan untuk mempertimbangkan empat hal ketika akan menikahi seorang perempuan yakni pertimbangan harta, nasab, paras dan agama. Rasul juga telah menjelaskan secara lengkap bahwa pilihlah yang pandai agamanya, maka kamu akan beruntung.

“Kenapa harus yang pandai agama?” ini adalah pertanyaan yang bagus. Mari kita bahas. Orang yang tidak pandai agama atau tidak bagus agamanya, ia akan cenderung menjadi orang yang serampangan dalam hidup. Berjudilah, maboklah, selingkuhlah. “emang ada perempuan yang kaya gitu?” Oh ada, hanya saja mungkin kamu yang jarang liat. Coba sekali-kali kamu main ke bar-bar. Ada ngga orang yang gitu? Mabok, hidup hedonis, ke anak kasar dll. Ada? Ngga usah pergi ke bar lha, lihat lingkungan sekitar saja, pasti ada.

Semua menjadi percuma jika mereka tidak mempunyai agama dihatinya, harta segunung akan habis untuk memenuhi sifat hedonisnya, kecantikannya malah ia gunakan untuk menarik pria-pria yang ia dekati, keturunan dari anak pejabat malah ia gunakan untuk melancarkan aksi penindasannya. Coba bayangkan kalo kamu punya isteri yang kaya gitu, hihi, habis hidupmu. Kamu susah susah cari nafkah, eh malah buat berlibur sama temen-temennnya, kamu udah setia-setia eh malah dia punya pria lain, dinasihati susah, dibiarin malah gitu. Waduhhh. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Amin.

 

Tapi sebaliknya, jika seseorang telah mempunyai agama dihatinya, biarpun anak orang miskin, ya ngga apa-apa, biarpun ngga cantik-cantik amat ya ngga apa-apa. Setuju? Yang penting kan ketika badan kita capai, ada yang mau mijitin, ya? Ketika lelah, ada bahu untuk bersandar, hehe. Ketika kita ada masalah bisa didiskusikan bersama. Susah-senang dijalani bersama. Ada rejeki sedikit ya bersyukur, ada kelebihan rejeki ya dibagi sama orang kurang mampu. Indah hidup ini. Itu yang pintar agama. Apa lagi yang pintar agama terus cantik, nasabnya baik, dan juga mampu secara ekonomi. Wahh itu mah ketiban rejeki namanya. Hehe.

 

Ada satu hal lagi yang ingin saya ceritakan disini. Saya mendapat konsep ini justru ketika saya sedang mengikuti khutbah jumat beberapa bulan yang lalu. Ketika itu khatib berceramah seperti ini : “dalam memilih pasangan hidup, harta, paras, nasab itu mempunyai nilai nol, sedangkan agama mempunyai nilai satu. Tapi kita jangan menyepelekan nilai nol ini karena setiap tambahan nol maka akan mempunyai arti dikali sepuluh. Misalnya saja calonmu itu mempunyai harta yang banyak, paras cantik, tapi agama tidak bagus berarti itu 0 0 0, artinya nol. Sebaliknya jika agama bagus, tapi harta kurang, paras kurang berarti nilainya 1, hanya 1. Dan jika agama bagus, harta bagus, dan paras bagus maka nilainya 100 bukan 1. Dan akan bertambah lagi nilainya menjadi 1000 jika nasabnya juga bagus.” Nah tuh, jadi walaupun harta dan paras itu bukan yang utama, tapi juga perlu dipertimbangkan. Hehe

 

Maka dari itu, kata orang bijak si, kita yang muda-muda ini harus lebih giat memperbaiki diri, ya walau nikah tinggal tujuh tahun lagi misalnya. Hehehe. Tidak ada kata terlambat bagi yang mau berusaha.

 

Selamat memilih jodoh!

Jodoh itu bukan saling mencari, tapi saling menemukan

 

Oleh :

Khorido Hidayat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s