Kuliah Jadi Guru Susah Amat Siih?

Bukan curhat si, tapi jika konten dibawah ini masih termuat emosi, saya memohon maaf kepada anda, karena saya hanya manusia biasa. Hehe.

Jadi ceritanya seperti ini,

Setelah saya hampir kuliah dua tahun di jurusan Bimbingan dan Konseling, saya mendapati banyak teman-teman saya mengeluh dengan kuliahnya, bukan hanya mereka yang kuliah di jurusan BK saja, tapi teman-teman saya yang berbeda jurusan dengan saya juga mengeluh. Apa yang mereka keluhkan? Apalagi kalau bukan tugas kuliah, sesuatu yang selalu menjadi makanan sehari-hari para mahasiswa. Mereka mengeluhkan banyaknya tugas, sulitnya tugas dan berbagai keluhan lainnya. Ya mungkin termasuk saya. Lalu ada satu pernyataan nyleneh yang sering keluar, yang mungkin bersumber dari lelahnya jiwa yang telah lama untuk berjuang, kalimat itu adalah “kuliah jadi guru ko susah amat si?”

Lalu pertanyaannya adalah, apakah memang benar seperti itu? Jika benar, mengapa demikian? Mengapa kuliah menjadi guru itu susah sekali?

Guru adalah orangtua bagi puluhan siswa, yang siap mengembangkan kepribadian dan meninggikan cita-cita mereka

Jadi guru itu tidak gampang dan tidak semua orang bisa menjadi guru. Titik. Itu adalah hal yang harus dipegang bagi semua mahasiswa yang sedang berjuang untuk menjadi seorang guru. Tapi hal tersebut juga jangan sampai malah membebani pikiran kita. Hanya karena menjadi guru itu susah, kita mau mundur jadi guru. Bukan, bukan begitu yang saya maksud. Selama kita masih ada niat untuk belajar menjadi guru, kita akan bisa menjadi guru.

Guru adalah orang tua kedua bagi siswa. Hampir 50% waktu siswa dihabiskan di sekolah, itu artinya guru mempunyai porsi perhatian yang besar dimata siswa. Bahkan ketika mereka dirumah, ibunya selalu mengingatkan tentang sekolah, tentang guru, yang pada akhirnya akan kembali memikirkan sekolah. Itulah beruntungnya kita. Kita mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk mengajarkan hal-hal yang baik kepada murid kita, yang mungkin kita tahu bahwa ibunya dirumah pasti belum sempat menyampaikan hal tersebut, seperti bagaimana cara bertindak sopan kepada orangtua, bagaimana cara agar kita tetap semangat, bagaiman cara membuat kerajinan tangan dan hal-hal lain yang kita yakin orangtua mereka belum mengajari tentang hal tersebut. Guru juga mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk meninggikan cita-cita siswa. Mereka boleh saja terlahir dari keluarga yang miskin, tapi jangan sampai kita membiarkan pikiran mereka tetap miskin. Kembangkanlah cita-cita mereka, bahwa sukses itu bukan masalah dimana ia lahir, tapi terletak dari seberapa serius kita menjalani hidup. Saya teringat satu quotes dari Mantan Menteri Pendidikan sekaligus penggagas Indonesia Mengajar, Anies Rasyid Baswedan, beliau mengatakan “lokasi lahir boleh dari mana saja, tapi lokasi cita-cita harus ada di langit”. Itu yang harus kita perhatikan, dan beruntungnya kita mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan pikiran siswa-siswa kita sehingga dia mempunyai cita-cita yang tinggi, setinggi langit.

Karena maju mundurnya suatu sekolah itu ada ditanganmu

Setelah kalian lulus, kalian akan menjadi seseorang yang mempunyai otoritas. Baik otoritas dalam membimbing siswa atau otoritas dalam mengembangkan sekolahmu sendiri. Siswa akan ikut berbelok kekanan jika kamu ke kanan, dan akan mengikuti kamu berbelok kekiri jika kamu berbelok ke kiri. Jika kamu berhenti, siswa-siswamu juga akan berhenti. Maka dari itu, jika guru salah, ia akan merugikan puluhan orang lainnya, yakni muridmu sendiri yang merupakan buah kepercayaan dari orangtua mereka untuk bersekolah disekolah tempat kamu mengabdi.

Jika sudah lulus, kita tidak akan lagi didampingi oleh dosen kita yang memberikan tugas ini itu, tapi melepaskanmu, karena kamu telah dianggap bisa berfikir mandiri untuk mengelola sekolah dan mengelola siswamu. Maka dari itu, kita harus tetap giat belajar dan giat memperbaiki diri. Mumpung masih ada waktu, dan masih ada kesempatan di organisasi, manfaatkanlah itu semua.

Guru adalah bahan gosipan para ibu-ibu di pasar

Wooo. Jangan salah, walaupun kalian itu bukan seseorang yang ganteng atau cantik, kalian akan menjadi bahan gosipan para ibu-ibu dipasar. Betul. Gosipan yang baik atau yang buruk itu mah tergantung kalian sendiri. Ya minimal karena SPP anaknya, atau program PKL anaknya.

“Eh bu, anak kamu sudah PKL belum? Anak saya katanya mau PKL semester ini dan disuruh bayar sekitar 500.000, ya memang si bla bla bla”

Minimal itu. Lalu jika kita akan melakukan pencitraan, bisa saja, gampang. Caranya, kita bayari aja tuh biaya PKL anaknya, pasti kita akan diceritain ke semua ibu-ibu yang ada di pasar itu bahwa guru X itu baik bangettt, karena telah membayari seluruh biaya PKL anaknya dan sekaligus diberi ongkos jajan. Hmmm, bisa menjadi modal buat nyalon lurah tuh. Hihi.

Guru adalah seorang ilmuwan di sekolah. Maka bukan hanya sifat penyayang saja yang dibutuhkan, tapi juga otak encer kaya Einstein

Kebanyang kan, jika kamu menjadi seorang guru matematika, namun kamu tidak bisa menjawab pertanyaan siswa tentang bagaimana cara menentukan letak sumbu X dan Y dalam suatu persamaan. Malu lah. Sudah sarjana tapi tidak bisa menjawab soal itu. Ya memang, guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, tapi setidaknya kita harus menguasai 90% materi mengajar. Guru adalah seseorang yang paling pintar di sekolah itu, jadi jika kamu itu ngga bisa menjawab, siapa yang akan menjawab pertanyaan siswa? Rumput yang bergoyang? Haha. Kaya lagu aja nih.

Bahkan, kita ini harus seperti para proffesor. Keilmuannya. Yang bisa menjawab persoalan ini itu tanpa salah sedikitpun. Jika kita belum bisa seperti dia, minimal ya tentang rambut botaknya saja deh, biar kelihatan intelek. Haha. Bisa buat modal pencitraan lurah juga tuh.

Percayalah, bahwa seberat-berat tugas kuliah anak kependidikan itu masih berat tugas anak teknik atau kedokteran, belum lagi sama dosen mereka yang terkenal hororr

Mungkin kalau kita masih mengeluh tentang tugas kuliah anak kependidikan, itu disebabkan karena kita belum tahu seberapa horor tugas-tugas kuliah anak teknik atau kedokteran ya. Yap, bisa kita tanyakan saja kepada teman-teman kita yang ada di jurusan teknik atau kedokteran. Mereka yang seharian suntuk hanya untuk menggambar sebuah tulang manusia, padahal gambar tulang manusia itu di internet juga sudah ada. Nah lo, belum lagi tentang dia ini memang tidak ada jiwa seni-nya untuk menggambar. Hayo bagaimana. Atau mereka yang selalu membuat laporan praktikum tentang energi listrik sampai pukul 01.00 atau pukul 02.00. Dimana mungkin kita sudah tertidur lelap dalam mimpi. Atau bahkan masih berkatifitas ya, tapi bermain PES edisi terbaru. Hihi.

Belum lagi tentang dosennya, yang katanya si, horor banget! Bagi mereka, hanya ada dua pasal ketika mereka berhubungan dengan dosennya. Pasal pertama, dosen tidak pernah salah, pasal kedua, jika dosen salah kembali ke pasal pertama. Bagi mereka, senyuman dari dosen adalah sesuatu yang bisa didapatkan sebulan sekali, yakni ketika tanggal muda. Haha. Tapi, tidak semua dosen teknik begitu kok. Yang baik juga ada. Lalu bagaimana dengan dosen kependidikan? Mereka yang mendidik calon-calon pendidik? Wahhhh, mereka asik-asik, humoris dan kadang diberi motivasi. Bagaimana? Apa masih mengeluh?

 

Oleh :

Khorido Hidayat

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling

Universitas Negeri Semarang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s