Usia 20 Tahun

Tanggal 5 Maret adalah tanggal yang selalu istimewa bagi saya. Yaaa, walaupun artikel ini ditulis bukan di tanggal 5 maret, insyaallah akan tetap istimewa. Tanggal itu adalah tanggal dimana saya terlahir sebagai seorang anak, yang dipundaknya terdapat harapan dan tujuan yang harus dilaksanakan sebagai seorang anak, yakni menjadi anak yang soleh. Mungkin saja, bila saya bisa mengingat momen itu, 20 tahun yang lalu, senyum bapak dan ibu sedang merekah ketika pukul 12 siang tadi melihat bayi yang telah dikandungnya selama sembilan bulan akhirnya bisa lahir dengan sehat dan lancar.

Sebagai anak yang normal, di usia anak-anak dahulu, tanggal ini merupakan tanggal yang selalu saya nanti-nanti. Saat dimana ruang tamu yang kecil itu bisa didatangi oleh teman-teman satu kampung, bisa mendapat roti ulangtahun, mainan baru, ciuman dari eyang, mbah, ibu dan bapak. Bahkan dahulu, ketika saya masih duduk dibangku SD saya sudah meminta dibelikan barang ini-itu atau sekedar jalan-jalan ke Mall Moro kepada ibu, padahal, hari ulangathun saya masih sekitar seminggu lagi. Ya, itulah masa anak-anak. Terimakasih bapak dan ibu yang telah memberikan saya kasih sayang lebih dari cukup.

Usia itu bukan bertambah tapi berkurang

Bagi saya, ulangtahun bukanlah sesuatu yang harus dirayakan dengan meriah dan menyita banyak biaya. Justru ini adalah momen bagi saya harus bersyukur dan merancang strategi kedepan. Bersyukur karena saya selah diberi umur yang panjang, dan merancang strategi agar hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Justru disaat ulangtahun seharusnya kita sedih, karena kita semakin dekat dengan kematian, tetapi dosa kita belum juga terampuni. Dan sedihnya lagi, kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepada Sang Pencipta. Mungkin jika kita tahu, kita bisa mempersiapkan kematian ya. Kini dengan semakin bertambahnya umur dan InsyaAllah juga diiringi dengan berkembangnya kedewasaan, bukan mainan, atau jalan-jalan lagi yang saya tuntut, tapi perbaikan diri, ibadah dan kebahagiaan orangtua yang saya kejar-kejar untuk saya raih.

Sudah Tidak Muda Lagi, Tapi Karya Masih Sekecil Ini

Dan kadang inilah yang menjadikan saya malu. Dimana orang-orang lain sudah banyak berkarya diusianya, tetapi saya dengan usia yang bisa dikatakan sudah tidak muda lagi, karya yang saya persembahkan untuk diri sendiri dan orangtua saya masih sangat sedikit. Tidak usah jauh-jauh tentang juara ini dan itu. Sekadar membaca Al Quran dengan baik saja saya masih kalah dibanding teman-teman yang lain. Apalagi jika melihat aspek-aspek yang lain seperti kemandirian, tanggung jawab, religius, prestasi akademik/non akademik dan lain sebagainya. Ya mungkin orangtua bangga dengan saya yang tidak terjerumus terhadap miras, narkoba, dll, namun saya tetap saja malu karena diluar sana juga banyak sekali orang-orang yang telah bisa membanggakan orangtuanya dengan segudang prestasi.

Terimakasih Ibu dan Bapak

Screenshot_2017-03-25-23-35-16

Dan yang terakhir adalah ucapan terimakasih yang sangat dalam kepada bapak dan ibu saya yang telah membimbing dan mendidik saya sehingga saya bisa menjadi seseorang yang mandiri. Mohon maaf belum bisa memberikan yang terbaik ya Pak Bu. Semoga pemberian bapak dan ibu bisa dihitung sebagai amal ibadah kepada Allah. Amin.

 

Mari kita gunakan sisa umur kita dengan baik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s