Mengapa kita hanya memilih satu?

Kamu pilih jadi orang pintar tapi temannya sedikit, atau menjadi orang biasa saja tapi temannya banyak?

Menurutmu, lebih baik jadi orang yang sederhana tapi hidupnya bahagia atau menjadi orang yang kaya tetapi tidak bahagia?

Kamu pilih jadi aktivis tapi IPK mu jelek, atau menjadi seorang mahasiswa yang IPK nya bagus tetapi pengalaman kurang?

 

Pernah kalian mendapatkan pertanyaan seperti itu? Saya yakin kalian pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu. Bukan hanya sekali, tapi mungkin juga berkali-kali. Sampai-sampai otak kita akan merespon kehidupan yang sendiri dan kesepian jika kita sedang membayangkan diri kita adalah orang yang pandai itu, kan?

Pertanyaannya, apakah selalu yang pandai itu tidak punya teman dan yang kaya itu selalu kikir? Apakah seperti itu?

Kalian pasti tahu siapa itu Yusuf Mansur. Beliau adalah pendakwah sekaligus miliader Indonesia. Apakah dia kaya? Iya Lalu, apakah dia kikir? No! Bahkan beliau adalah seseorang yang biasa bersedekah dalam jumlah ratusan juta, pernah kalian bersedekah hingga ratusan juta? Lalu, apakah beliau juga hidup dalam kebahagiaan? Insyaallah bahagia. Ya?

Lalu kalian juga pasti tahu siapa itu BJ Habibbie. Orang yang cerdas, nasionalis dan sosok yang berpengaruh bagi Indonesia. Apakah beliau ini tidak mempunyai teman yang banyak? Punya, bahkan teman-teman beliau bukan hanya dari Indonesia. Ya kan? Lalu apakah kamu sudah punya teman dari luar negeri?

 

Maksud saya menyampaikan ini adalah, jika kita bisa memilih menjadi orang yang kaya dan dermawan, mengapa kita tidak ambil saja kesempatan itu : menjadi orang yang kaya sekaligus dermawan. Jika kita bisa menjadi orang yang pandai dan mempunyai teman banyak, mengapa kita harus memilih salah satunya saja? Bahkan, jika kita pandai dan kaya, justru kita bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi oranglain, kan?

Namun kebanyakan orang Indonesia telah terkurung dalam mainset yang pandai = sombong, yang kaya = kikir, yang cumlaude = bodoh di organisasi. Padahal itu kan tergantung diri mereka masing-masing. Setuju?

Mari kita keluar dari mindset itu

Jika kita bisa menjadi orang yang kaya dan bahagia, mengapa tidak kita ambil kesempatan itu?

 

 

 

Khorido Hidayat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s