Ngga Usah Mikirin Bakat, Susah!

“Apa bakatmu?”

Pertanyaan inilah yang kadang membuat mata seseorang menjadi mengarah kekanan-kekiri-keatas-kebawah, yang kadang juga membuat dahi menjadi mengkerut, atau malah sengaja untuk dikerutkan. Entah mengapa. Mungkin karena mereka tidak mau sombong terhadap bakat mereka, ehhh-atau karena mereka tidak tahu apa bakat mereka yaa?

Kebanyakan orang Indonesia tidak tahu apa bakatnya, tapi ketika mereka disuruh untuk menyebutkan apa kekurangannya, mereka dengan cepat akan menulis poin demi poin yang menjadi kekurangannya. Jika boleh berpendapat si, menurut analisis logika saya, akar yang menyebabkan kebingungan bakat masyarakat di Indonesia ini adalah karena buruknya sistem pendidikan Indonesia dan pola asuh orangtua yang salah.

Tetapi saya tidak akan membahas itu

Saya akan kembali membahas pertanyaan diawal BAB ini, “apa bakatmu?” eh jawab, apa bakatmu?

 

Syukurlah kalau kamu masih bingung ditanya itu, “lha kok?”

Lupakan bakat. Iya lupakan. Mengapa? Karena bakat yang belum ditemukan tidak akan pernah memunculkan wujudnya. Jika kamu terus mencari, maka kamu akan semakin kehilangan dia -seperti cinta, tsahhh!

Fokuslah pada apa yang kamu sukai, karena sesuatu yang kamu sukai erat kaitannya dengan potensi atau bakatmu

Saya jadi teringat cerita pada bulan Agsutus tahun lalu, ketika saya disuruh berbicara di depan mahasiswa baru FIP Unnes tentang keilmiahan, saya mendapatkan pertanyaan yang sangat mainstream -sangat biasa- bagi saya. Pertanyaannya adalah “mas saya ini sebetulnya suka nulis, dan pengin gabung di organisasi kepenulisan kayak Mas, tapi saya ini kayaknya ngga berbakat deh dibidang tulis menulis, menurut Mas sendiri gimana?”. Pertanyaan yang sangat biasa, dan dialami oleh semua orang yang akan masuk di dunia tulis menulis, mungkin. Mendengar itu, saya langsung menjawab “ngga usah mikiri apa bakatmu, susah, kalau kamu memang suka, lakukan saja, karena jika kamu ada niat, pasti kamu akan menemui sebuah jalan, yakin itu”.

Saya sendiri, yang pada dasarnya adalah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling tidak terlalu mempercayai teori bakat, serius, saya justru lebih fokus untuk menekuni apa yang menjadi kesukaan saya, entah itu bakat atau bukan, karena saya meyakini bahwa jika kita ada niat, pasti kita akan menemui jalan kemudahan, itu saja, simpel.

Waktu kita akan habis jika terus terusan mencari bakat, learning by doing, mungkin kata itu pas untuk menjadi salah satu kunci pada pembahasan kali ini. Pada akhirnya kita akan menemukan apa bakat kita disaat kita sedang menekuni sesuatu.

So, apa bakatmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s