Diary Me Time Challenge (Day 1 dan 2)

Day 1

Diary ini saya tulis di hari kedua lebaran. Saya sengaja untuk memasukkan diary ini dalam day 1 karena saya akan menceritakan pengalaman saya menjalankan Me Time Challenge di hari 1. Langsung cerita saja yaa, sebetulnya saya mulai mematikkan HP saya pada pukul 20.00 WIB karena memang saya sudah selesai dengan HP saya di pk 19.30, semua ucapan sudah saya sampaikan, ke  grup-grup, ke teman-teman melalui PC ataupun ke beberapa dosen, ditambah lagi dengan persiapan acara lomba takbir keliling bersama para remaja (tetapi lebih banyak bapak-bapak), maka tidak mungkin bagi saya untuk terus menatap layar HP saya dan  tidak bertegur sapa dengan beliau-beliau. Maka sudah saya putuskan untuk mematikkan HP saya pukul 19.30.  Tetapi menjalani challenge ini memang tidak gampang, ada saja hal yang membuat saya berniat untuk menyalakan HP saya, dan pada akhirnya saya teringat bahwa saya belum mengucpkan selamat lebaran kepada saudara saya yang di Riau, so, setelah saya mengikuti acara takbiran, saya segera membuka HP saya dan saya mengedit beberapa tulisan saya, sejurus kemudian saya kirim, sudah, dan saya matikan lagi. Selesai. Saya tidak mau waktu saya bersama masyarakat berkurang gara-gara HP saya. Eh iya, takbirannya juara 2 guys!

HARI LEBARAN

Di hari ini, hari h lebaranpun, dari pagi hingga malam ini saya tidak merasakan apa-apa dengan ketidak pegangan saya dengan HP. Serius. Atau mungkin karena saya bukan orang yang bukan gadget addict mungkin ya, atau memang tidak ada special someone or things di HP, haha. Saya tidak tahu, yang jelas saya benar benar tidak merasa kehilangan apapun ketika saya meninggalkan HP dihari ini. Hanya saja mungkin saya sempat meminjam HP kaka saya untuk nge WA saudara saya yang darii Purworejo untuk segera ke tempat eyang maksimal besok pagi. Karena besok ada acara arisan keluarga. Tapi itu tidak membuat saaya pusing sama sekali. Kesan di hari pertama saya mengikuti challenge ini adalah: senang, karena saya jadi tahu bahwa saya tidak terkena momophobia. Kayaknya si gitu. Hehe. Momophobia itu adalah sebuah kelainan psikologis dimana seseorang merasa cemas, khawatir dan stress ketika dia jauh dari HP nya. Untuk pembahasan momophopia lebih lanjut, kalian bisa cari tahu sendiri di google yakk.

 

DAY 2

Di hari kedua ini saya masih merasa sama saja (menggunakan HP ataupun tidak menggunakan HP) bahkan mungkin kalau saya menggunakan HP di momen ini, mungkin yang terjadi malah mood menjadi hancur, karena lola nya operator, karena ributnya grup atau justru karena tidak ada orang yang nge PC, haha. Di hari ini (2 Syawal) saya merasa bahwa saya bisa fokus dengan suasana kekaluargaan yang sedang berjalan siang ini. Arisan keluarga seperti ini memang diselenggarakan secara rutin setiap tiga bulanan sekali. Tujuan yang utama mah jelas: untuk menyambung silaturahmi. Baik, kembali ke topik HP, di hari ini saya tidak merasa ketinggalan berita dengan keputusan saya untuk menonaktfikan HP saya, saya tidak merasa tidak eksis, saya tidak merasa khawatir jika mendapat pesan yang penting ataupun yang lainnya. Saya justru sering meledek saudara saya yang lebih asik main dengan HP nya padahal disampingnya juga ada orang (yang juga main HP) haha. Ya mungkin itulah kids jaman now.

Tapi ngomog-ngomong tentang kids jaman now, saya merasakan bahwa ketika saya melepaskan diri dari HP, terkadang saya bertanya kepada diri sendiri ‘setelah ini ngapain?’ misalnya setelah saya shalat dhuhur, sering muncul pikiran ‘setelah shalat ini mau ngapain?’ mungkin orang sekarang menamai momen tersebut dengan sebuatan ‘gabut’. Kemudian karena saya belum bisa memegang HP, saya mengalihkan waktu saya dengan membuka buka buku, ataupun berbicara dengan saudara atau mengalihkan waktu saya dengan membuka-buka buku yasin. Iya betul. Karena memang saya mempunyai niatan untuk mengahafal bacaan tahlil. Sehingga dengan ini saya dapat berfikir bahwa, orang-orang jaman dahulu -mungkin jaman bapak ibu kita atau jaman nenek kita- mereka semua bisa pandai agama karena memang belum adanya fasilitas hiburan selengkap ini. Makannya, kalau kalian pernah diceritain oleh orangtua, pada era itu memang para remaja, anak-anak, setelah pulang sekolah, setelah ashar atau setelah maghrib , mereka tidak main di alun-alun, atau mabar dengan teman-teman mobile legend nya, tapi mereka pergi meuju ke masjid masjid terdekat bertemu ustadznya dan melanjutkan pembelajaran agama yang sudah diterangkan kemarin. Sehabis maghrib pun sama. Yang terjadi pada orang  jaman sekarang kan sebelum maghrib nonton TV, setelah maghrib nonton TV, sebelum makan liat HP, setelah makan liat HP. Sehingga yang terjadi ya seperti ini.

Dan dari hari kedua ini saya juga dapat memperkirakan, bahwa:

Kids jaman now yang notabene nya mulai memegang HP di kelas empat SD saja sudah se addict ini dengan gadget, bagaimana kehidupan anak-anak pada sepuluh atau limabelas tahun kedepan yang dapat diperkirakan, anak umur 1 tahun saja sudah ngerti HP dan sarana hiburan elektronik yang mungkin semakin ‘gila’?

Bagaimana cara mengajak anak masa pada depan untuk pergi ke ustadz di sore hari? Bagaimana cara mengajak anak untuk membaca alquran walau selembar di waktu bada maghrib setiap hari? Hanya satu solusinya, pola asuh orangtua harus bisa menyesuaikan dengan zaman. Mungkin lain kesempatan saya akan menulis mengenai topik parenting ya. See you next time!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s